jump to navigation

MIKROELEKTRONIK 20/03/2011

Posted by yd2tfb in Orari.
Tags:
trackback

ENAM puluh tahun silam, hampir setiap orang mampu merakit radio dalam beberapa jam. Yang dibutuhkan pun hanya beberapa komponen sederhana: sebuah kristal atau tabung hampa, batere, dan sebuah kumparan.

Bila semua unsur itu dihubungkan dengan sejumlah kawat dibantu sebuah diagram rangkaian, jadilah radio. Tentu saja setelah semua, sebagai satu kesatuan, dipasang pada sebuah kerangka kayu dengan sekrup.

Sederhana sekali. Kesederhanaan ini melahirkan konsekuensi, siapa pun yang merakit radio, paling tidak, sudah mengetahui beberapa prinsip penerimaan radio seperti deteksi, cuning, dan amplifikasi.

Pada tahun lima puluhan itu, memang, tidak seorang pun mampu menyaksikan sejumlah elektron mengalir dari filamen panas tabung hampa. Juga, tidak seorang pun mampu menangkap gelombang elektromagnet bergerak dan beresonansi pada sebuah kumparan variabel. Namun, berurusan dengan obyek-obyek yang tak dapat dipegang itu, setiap orang yang kurang berorientasi kepada hal-hal teknis pun masih mampu memahami mekanisme yang terjadi.

Karena itu, mereparasi radio rusak dapat disebut permainan kanak-kanak. Entah karena batere habis, hubungan antarunsur yang kendur atau mungkin karena sebagian komponen yang rewel. Semua masih berkisar pada masalah mencari letak kerusakan dan memperbaikinya dengan langsung.

Namun, sejak itu, teknik radio telah semakin berkembang pesat. Bagi David Sarnoff sekalipun, orang pertama yang “mengkotakkan” radio, sebuah radio modern mungkin sudah begitu jauh di luar jangkauan idenya pada tahun 1916.1 Walau prinsip-prinsip radio masih tetap, perangkat komunikasi itu telah banyak mengalami perubahan. Daya tangkap, ketepatan frekuensi, dan kualitas suaranya tidak lagi dapat dibandingkan dengan masa empat puluh tahun silam. Sejalan dengan pertumbuhan stasiun-stasiun pemancar yang lebih modern, penggunaan FM dan bahkan FM stereo telah semakin dikembangkan, disusul penggunaan remote control dalam pencarian dan pemilihan frekuensi.

Sayangnya, seiring dengan kemajuan itu, timbul beberapa pengaruh negatif. Sejarah telah menunjukkan, pertumbuhan dan perkembangan radio telah didukung oleh serangkaian penemuan. Setelah Marconi mengembangkan pemancar kumparan latu pada tahun 1897, secara berurutan, Pupin, Fessenden, Fleming, De Forest, dan Amstrong menyumbangkan temuan mereka: kumparan terbebani, radiofon, tabung dua elemen, tabung tiga elemen, untaian regeneratif,2 sampai akhirnya di tahun 1948, ketika transistor mulai diperkenalkan oleh Bardeen, Brattain, dan Shockley di Amerika, dimulailah era teknik radio yang lebih rumit dan renik.3

Bila transistor yang kemudian dipasarkan di tahun limapuluhan menggantikan lampu tabung, penemuan berikutnya rangkaian cetak menggantikan transistor. Lalu, teknik radio semakin renik setelah muncul rangkaian terpadu yang berwujud sekumpulan komponen dalam sebuah chip silikon yang amat kecil. Akibatnya, sebuah radio modern menjadi kian luarbiasa rumit. Komponennya yang renik dalam chip silikon menjadikannya sulit untuk dipahami. Pelahan-lahan orang tidak mampu lagi membuat radio sendiri, apalagi harus memperbaiki kerusakannya.

Gejala ini umumnya, terjadi hampir di segala bidang kehidupan yang mengoperasikan alat elektronik. Dulu, pemanggang roti besi yang rusak mudah diperbaiki, tapi tidak untuk oven yang menggunakan gelombang mikro. Choke mobil biasa dapat diatur dengan mata dan tangan, tapi choke mobil dengan sistem elektronik dapat saja menjadi lepas kontrol. Dulu, kanak-kanak masih dapat menikmati bandul jam dinding di rumah nenek yang bergoyang-goyang, kini mereka tak akan pernah dapat memahami mekanisme digital Seiko yang menghiasi dinding, termasuk jenis yang setiap hari melilit di pergelangan tangan mereka. Dulu, kanak-kanak masih dapat menatap baling-baling pesawat terbang Dakota milik Garuda, kini mereka tak dapat menangkap mekanisme yang sama pada pesawat Jumbo Jet.

Jelas sudah, sifat langsung hubungan antara manusia dengan benda pada masa lalu, yang mempercepat pemahaman mereka mengenai mekanisme suatu benda secara alamiah, pelahan-lahan telah menghilang. Malah, sebagian besar di antara mereka, dengan begitu saja memasrahkan diri, membiarkan wilayah-wilayah kehidupan mereka dijajah mikroelektronik yang bernama kemajuan.

Hal ini tampaknya akan terus berlangsung tanpa dapat dicegah. Penunjang utamanya, setiap orang akan menghadapi kesulitan dalam mengikuti perubahan dari suatu penemuan ke penemuan lain. Hanya dalam waktu singkat, sesuatu yang baru dapat saja segera menjadi kuno.Usia sesuatu semakin relatif “sementara”.Sejarah telah mencatat, tabung hampa udara dikembangkan para ahli selama 33 tahun, 1882-1951, radio disempurnakan mereka selama 15 tahun, 1947-1950, disusul penemuan batere matahari dalam waktu 2 tahun, 1953-1955. Karena itu, mungkin benar kata para ilmuwan, kalau laju percepatan itu berlangsung terus, pada tahun 2500 nanti, sebuah penemuan dasar dapat diubah menjadi alat siap pakai hanya dalam satu kedipan mata per satu mikrodetik.4

Sebab itu, para penggemar, pemilik, dan pengguna pemancar dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa pemahaman mereka terhadap pesawat pemancar akan terus digerogoti oleh penemuan-penemuan yang tidak tertentukan batasnya. Dan, kesulitan yang telah dapat mereka rasakan kini adalah ketidakberdayaan dalam merakit pemancar sendiri, apalagi memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada. Diperkirakan, pada tahun 1985, hanya sekitar sepuluh persen dari mereka yang mampu menguasai seluk beluk teknik radio. Jika pemilik pemancar radio resmi saat itu ada 55.000, berarti 49.500 di antara mereka termasuk buta elektronik.5 Kalau pada tahun 1993 ada sekitar 104.527,6berarti angka buta elektronik itu dari tahun ke tahun kian meningkat menjadi sekitar 94.074 orang. Akibatnya, ketergantungan diri mereka pada para tangan-tangan penguasa elektronik semakin nyata.

Kunci persoalan ini, tentu, hanya dapat ditemukan pada diri mereka sendiri. Paling tidak, orientasi-orientasi para penggemar, pemilik, dan pengguna pemancar sebagian besar memang bukan pada penguasaan teknologi, tapi hanya sebatas user. Mereka hanya mau menjadi komsumen, bukan produsen.

Perilaku semacam ini, tanpa sadar, menenggelamkan kehidupan mereka ke dalam dunia yang semakin tidak terpahami. Pemancar yang dekat semakin menjadi asing. Radio yang berdendang semakin menjadi ajaib. Melalui mikroelektronik juga, mereka menjadi semakin tidak mengerti dengan dunia mereka

Komentar»

1. fikrisu - 06/04/2011

Nice article….sangat inspiratif. Good luck and salam kenal yach sob…by info mesin roti


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s